Nonton Yuu
25 July
2007
Kemarin gue nonton film “28
Weeks Later” sama Debyonk, Mbak Atih, Uceu, Rain, Mpor. Tadinya gue berniat
nonton “Harry Potter”— yeah, honestly
gue memang belum nonton Harry Potter. Transformers juga beluum!!
Aaaarrhggghh!!— tapi Rain dan Uceu sudah nonton. Mbak Atih dan Debyonk
nggak suka. Ya, sudah kita cari film lain. Sempet kepikiran nonton “Selamanya”
tapi kita semua punya pendapat sama —
Ah, film Indonesia mah, sebentar lagi juga ada di TV— sempet kepikiran
nonton ”Shooter” juga tapi gue dengan alasan “Aduh, pasti tembak-tembakkan ya?
Aku kan nggak suka kekerasan” yang gue sadari amat sangat sok imut banget
menggagalkan keinginan nonton film “Shooter” dan akhirnya last choice. 28 Weeks Later.
Kata Mbak-Mbak tukang
karcisnya sih, filmnya tentang zombie gitu. Sebenernya gue nggak terlalu suka
film zombie. Soalnya, selain terlalu dibuat-buat, zombie itu lebih terlihat
sebagai makhluk lambat yang berbentuk jasad orang mati tapi punya kekuatan
menggigit dan mencabik yang luar biasa. Kekuatan mencabik dan menggigitnya itu
terlalu tidak seimbang dengan kelambatannya dalam berjalan.
Masuklah kita semua ke studio
6 BIP. Nonton. Film ini cukup menghibur gue karena zombinya berlari dengan amat
sangat cepat!!! Gue suka! Kalau saja semua zombie cepat, gue akan suka film
zombie. Tapi, film ini juga cukup sedih. Kebayang nggak sih? Di saat nonton,
gue sempat meneteskan air mata karena sedih. Hahaha!
Anyway, gue dan teman-teman gue ternyata mengganggu keasyikan
nonton para penonton yang lain. Mulai dari ngomong, “Aduh, mama. aduh.. Ih,
serem banget gila!! Ih, itu kasihan. Takut, takut, takut” tapi itu masih wajar
kok. Penonton yang lain juga begitu. Mulai nggak wajar pas si Uceu mulai
nanya-nanya ke Mbak Atih, “Mbak, anak itu siapa sih? Lho kok settingnya pindah?
Ih, kenapa orang-orang ditembakin? Kok anak itu hidup lagi? Kok dia nggak jadi
zombie sih?” dan pertanyaan lainnya. Gangguan berlanjut ketika Debyonk dan Mpor
yang duduk di sebelah kiri gue iseng-iseng melempar Rain yang duduk di sebelah
kanan gue dengan tissue yang akhirnya berujung dengan perang tissue yang
menghalangi pemandangan gue. Sampai saat itu, gue tidak ikut-ikutan membuat
gangguan sampai akhirnya setting di film berada di circus yang sudah tidak
terpakai. Rain tiba-tiba aja ngomong, “Ih, liat, ada korsel”. Gue—yang jujur
aja suka ngerasa geli sendiri mendengar kata korsel— langsung ngomong,
“Kamana atuh Korsel??” Yang tanpa gue sadari suaranya cukup stereo juga
sampai-sampai mebuat beberapa orang ber-sssst-sssttt ria. Hahaha! Ndeso
banget!!!
But, anyway, filmnya cukup
menghibur untuk gue. Pengen nonton lagi.