Huwaaah….
BT!!!
Kenapa siyh?
Nggak ngerti deh gw! Kita udah biasa-biasa aja ke dia! Dianya aja yang luar biasa!
Hellow!!!!!!
Biasa aja deh!!!
BT!!!
Kenapa siyh?
Nggak ngerti deh gw! Kita udah biasa-biasa aja ke dia! Dianya aja yang luar biasa!
Hellow!!!!!!
Biasa aja deh!!!
Banyak orang yang bilang, masa-masa terindah adalah masa-masa SMA. Beberapa hari yang lalu gw menyangkal pernyataan itu. Tapi, sekarang, gw mau menarik lagi kata-kata gw.
Walaupun gw masih belum berani menjadikan seseorang ataupun sekelompok orang sebagai teman gw, tapi gw baru saja menyadari sesuatu. Gw merasa ada suatu kelompok, suatu tempat di mana gw bisa ngerasain sesuatu yang berbeda di saat gw berada di tempat itu. Di mana gw bisa menjadi diri gw sendiri. Di mana gw bisa nemuin hal-hal yang gw temuin di tempat lain. Tempat di mana gw bisa ngelupain semua hal yang selama ini mengganggu pikiran gw. Tempat di mana gw ingin selama-lamanya bisa berada di sana. Tempat di mana ada orang yang bisa ngehargain gw dan nerima gw apa adanya. Tempat di mana gw bisa ketawa lepas, menangis (walaupun gw selalu coba untuk nggak menangis di depan siapapun), marah dan ngeluapin semua yang gw rasakan.
Tempat itu sudah ada sejak gw masuk SMA. Tapi, tempat itu bukanlah ruang kelas gw. Bukan ruang BK, tempat pengaduan masalah. Bukan pula ruang guru, tempat guru-guru bersenda gurau. Tapi, tempat itu ada di sekolah gw. Di sekolah biasa. Di sekolah negeri yang bukan merupakan sekolah favorit. Di sekolah yang sebentar lagi bakal gw tinggalin.
Tempat itu mungkin tidak terlihat.
Tempat itu mungkin kasat mata bagi sebagian orang.
Tempat itu mungkin sudah dianggap tidak ada oleh sebagian orang.
Tapi tempat itu terlihat dengan amat sangat jelas untuk gw.
Gw juga dulu nggak bisa melihat tempat itu dengan jelas walaupun gw tau bahwa tempat itu ada. Tapi kini, walaupun sekarang gw lagi nggak berada di tempat itu, gw selalu tau bahwa tempat itu sudah nggak lagi berdiam di sekolah. Tempat itu sekarang sudah terbawa-bawa di hati gw.
Tempat itu, Kelompok itu adalah ekstrakurikuler gw. Sebuah ekstrakurikuler kabaret di sekolah gw. Namanya b’tops. Bengkel Topeng Sembilan.
Sudah hampir tiga tahun gw di sana. Sudah hampir tiga tahun gw bareng sama mereka. Sudah hampir tiga tahun gw bisa tertawa lepas bersama mereka. Sudah hampir tiga tahun gw mengukir kenangan-kenangan gw bareng mereka. Sudah hampir tiga tahun kita menangis bersama. Sudah hampir tiga tahun kita berbagi. Sudah hampir tiga tahun gw merasakan banyak banget pengalaman pahit maupun senang bersama mereka.
Tapi, semunafik itukah gw yang bilang bahwa gw nggak punya teman? Kenapa gw baru sadar hal ini ketika gw melihat foto-foto selama kita bersama? Kenapa gw bisa sampai berpikiran bahwa gw nggak punya temen? Kenapa gw bisa sampe setolol itu sampai-sampai membuat pernyataan bahwa gw nggak punya temen?? Nggak ada orang yang lebih tolol dari gw saat ini.
Kenapa justru gw bisa lupa sama orang-orang yang sudah menemani gw selama tiga tahun hanya gara-gara saat itu gw merasa bahwa gw harus memakai topeng di depan orang-orang? Padahal, gw bisa melepas topeng gw selama gw bareng sama mereka.
Mereka adalah salah satu anugrah yang paling indah yang pernah diberi Tuhan ke gw. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya gw sebut teman. Merekalah yang pantas gw sebut teman.
Tidak! Mereka tidak pantas disebut teman. Mereka lebih dari teman! Mereka pantas mendapat gelar yang jauh lebih tinggi dari hanya sekedar teman. Mereka pantas gw sebut sahabat. Bukan! Mereka bukan sahabat gw! Mereka kurang pantas disebut sahabat. Yang paling pantas untuk mereka adalah keluarga. Ya. Keluarga. Merekalah keluargaku yang lain.
Gw nggak mau berpisah dari mereka. Gw nggak mau meneteskan air mata perpisahan untuk mereka. Yang gw mau, tidak ada air mata perpisahan. Yang gw mau, tidak ada perpisahan. Yang gw mau, kita selalu bersama selamanya. Yang gw mau, kita selalu ada untuk satu sama lain.
Gw cengeng! Gw nangis! Iya. Gw nangis setiap kali gw teringat bahwa suatu saat gw nggak akan bersama mereka semua. Gw nangis setiap kali gw teringat bahwa suatu saat kita akan punya kehidupan masing-masing dan mungkin akan melupakan satu sama lain. Gw nangis setiap kali gw sadar bahwa gw butuh mereka.
Tuhan, terima kasih telah memberi mereka padaku.
Tuhan, terima kasih telah memperkenalkan mereka padaku.
Tuhan, terima kasih telah membukakan mataku.
Tuhan, terima kasih banyak…
Tahun 2006 telah berlalu. Tahun yang baru sudah datang. Semua orang menyambut
kehadiran sang 2007. Anak-anak kecil meniupkan terompet kedatangan tahun yang
baru, para remaja merayakan dengan berbagai acara, para orang tua tersenyum,
menyadari tahun semakin bertambah.
Pergantian tahun selalu saja dirayakan
secara besar-besaran. Walaupun tidak semua orang bisa ikut larut dalam
keceriaan, tetapi hampir semua orang yang ada di dunia ini merasakan kebahagiaan
tiada tara dalam perayaan tahun baru.
Ya, tahun baru telah tiba! Dua Ribu
Tujuh. Gw mau mengucapkan, “Selamat datang 2007! Semoga segala sesuatu akan
menjadi jauh lebih baik di tahun ini. Dan, semoga di tahun yang makin bertambah
ini, gw akan tambah berguna untuk semua orang yang berada di sekitar
gw…
Amiin…
Sang cinta justru aku temukan disaat Topeng Keceriaanku mulai hancur. Di tengah
kehancuran yang sedang dialami oleh Sang Topeng Keceriaan, muncullah seorang
pangeran yang membuat diriku bisa melupakan sejenak tentang Sang Topeng
Keceriaanku yang mulai hancur.
Keceriaan yang selama ini hanya bisa aku
dapetkan dengan memakai topeng, kini bisa aku dapatkan dengan alami. Tidak perlu
lagi Topeng Keceriaan itu. Toh, keceriaan bisa kudapat dengan hanya memandang
wajahnya yang tak pernah lepas dari senyuman. Dengan hanya mendengar suaranya
saat menyapaku, semua rasa sedih yang hinggap serasa terambil
kembali.
Saat itu aku bertanya-tanya…
Apakah aku jatuh
cinta?
Apakah aku merasakan apa yang ku sebut cinta?
Tidak, tidak
mungkin…
Apa arti cinta pun aku tidak mengerti. Bagaimana bisa aku
mengatakan aku jatuh cinta?
Mungkin aku hanya sekedar suka.
Aku kan hanya
sekedar mencari pengganti Topengku yang sudah hancur itu.
Ku coba jauhkan
segala bayangan dirinya dengan harapan semua yang aku rasakan bukanlah rasa
cinta. Tetapi, semakin aku mencoba menghilangkan bayang dirinya, semakin sering
bayangnya hadir di otakku.
Hei, ada apa denganku?
Mengapa dia selalu
ada di pikiranku?
Ah, mungkin aku terlalu sering memikirkannya…
Tapi,
tidak juga! Justru aku ingin dia hilang dari pikiranku!
Hari demi hari ku
lalui dengan mencoba segala cara agar aku bisa berhenti menyukainya. Tapi, masih
tetap tidak bisa menghilangkan rasa sukaku.
Akhirnya, kuputuskan bahwa
aku memang mencintainya.
Tapi, disaat aku mulai percaya bahwa aku
mencintainya…
Disaat lembar demi lembar halaman di diaryku mulai menuliskan
segala rasa yang aku rasakan padanya…
Dia menyatakan cintanya…
Dia
menyatakan cintanya pada orang lain…
Dan orang itu menerima
cintanya…
Dan aku….
Hanya bisa merasakan tetes-tetes air mata yang
mulai menetes di pipiku…
Aku mulai bertanya-tanya lagi…
Mengapa…
Mengapa saat ku yakinkan diriku bahwa ini cinta, dia pergi dengan orang
lain…
Siapa… Siapa yang bisa menggantikan dia di hatiku…
Apa… Apa
yang bisa mengobati sakit hatiku…
Kapan… Kapan air mataku berhenti
menetes…
Dimana… Dimana aku akan bisa menemukan lelaki seperti
dia…
Bagaimana… Bagaimana caranya supaya topengku yang pernah tergantikan
olehnya bisa kembali lagi…
Hari ini, entah sudah hari keberapa aku
menangisi kamu…
Hari ini, entah sudah berapa banyak air mata yang aku
keluarkan…
Dan, sampai hari ini…
Kamu belum tahu isi hatiku…
Setelah gue baca apa yang baru aja gw ketik, gw menyadari sesuatu. Gw gak bisa
mendapatkan inspirasi yang murni dari diri gw sendiri.
Buktinya adalah
tulisan ini. Kalau gw nggak baca blogsnya Tante Kristy, mungkin gw nggak akan
nulis apa yang baru aja gw tulis. Liat deh, gaya bahasa yang gw pake. Seorang
Ajenk jarang banget make bahasa seperti ini. Bahasa yang bisa dibilang nggak
nyantai dan sedikit formal. Tapi, setelah gw baca blogsnya Tante yang berisikan
kata-kata yang semi-formal tapi tetap enak dibaca, gw jadi berfikiran bahwa,
“Hey, I can do it!”. Kenapa gw nggak nyoba sesuatu yang baru dengan apa yang gw
sebut ‘Diary’.
Selama ini, yang berisi di diary gw seakan-akan
memperlihatkan bahwa gw bukanlah orang yang bisa diajak serius. Dan gw pengen
ngerubah image itu. Mungkin dengan gaya nulis gw yang kayak gini, gw bisa
merubah ke-pura-pura-an gw yang selalu bersikap ceria. Hey, gw juga manusia! Gw
nggak bisa selama-lamanya berada di dalam keceriaan. Even, the happiest person
in the world, pasti pernah merasakan suatu kesedihan.
Talk about
inspiration…
Banyak banget kehidupan orang-orang yang ada di sekitar gw yg
secara sengaja ataupun tidak sengaja meng-influence kehidupan gw. Mulai dari
cara gw ngomong, cara gw berfikir, cara gw menanggapi suatu permasalahan, cara
gw memandang kehidupan ini, cara gw mengartikan kata cinta, cara gw menunjukkan
kasih sayang, cara gw menilai orang, dan banyak banget. Semua hal-hal baik yang
gw punya (itu juga kalau emang gw punya sisi baik) dan juga hal-hal buruk yang
gw punya, nggak bisa lepas dari pengaruh orang lain. Contoh yang paling dekat
adalah, tulisan yang lagi gw buat ini. Terinspirasi dari Tante
Kristy.
Inspirasi yang gw dapat dari orang lain sudah gw dapat dari gw
kecil.
Dari gw masih bayi, pengaruh orang tua gw membentuk diri gw yang
sekarang.
Saat gw balita, pengaruh Nenek gw yang selalu menemani gw mulai
membentuk rasa kasih sayang gw ke Nenek gw.
Di saat masa-masa gw TK,
teman-teman gw (apa mereka pantas disebut teman? jangan tanya gw, karena itu
adalah cara gw menyebut mereka) yang kebanyakan adalah laki-laki memberi
pengaruh yang menjadikan gw seorang anak perempuan yang berkelakuan seperti anak
laki-laki.
Di masa-masa gw duduk di bangku SD, teman-teman gw (again,
jangan tanya apa mereka pantas disebut teman) yang senang tertawa membentuk diri
gw yang suka pura-pura senang apapun kondisi yang sedang gw alami, dan selalu
mencoba untuk bersikap seakan-akan gw adalah orang terbahagia di dunia
ini.
Di saat gw berada di masa SMP, orang-orang yang gw sebut teman
menyenangi diri gw yang selalu ceria membuat gw bertahan untuk memakai topeng
keceriaan gw dan selalu mencoba membahagiakan mereka yang gw sebut teman tanpa
menunjukan bahwa gw adalah manusia yang juga bisa merasa sedih.
Dan
sekarang, di masa SMA gw, di masa yang menurut orang-orang adalah suatu masa
yang paling bahagia dari seluruh hidup loe, segala kepenatan yang selama ini
tertutupi oleh topeng keceriaan gw mulai tampak. Topeng keceriaan yang selama
ini selalu gw bangga-banggakan mulai retak. Topeng keceriaan yang selama ini
membantu gw untuk lari dari segala kenyataan yang nggak mau gw hadapi sudah
mulai hancur. Gw udah nggak bisa mempertahankan topeng keceriaan gw lagi. So,
what i’ve to do?
Karena gw udah nggak bisa mempertahankan lagi topeng
keceriaan gw, maka, gw memutuskan untuk mencari inspirasi lagi. Dimana gw bisa
menemukan sesuatu untuk menggantikan Topeng Keceriaan itu.
Tapi, gw harus
mengingatkan diri gw sebelum gw mulai mencari inspirasi itu. Gw harus mencari
inspirasii yang bisa tetap menjadikan diri gw sebagai diri gw sendiri. Jangan
mencari inspirasi yang akan membuat gw menjadi orang lain. Jangan mencari
inspirasi yang akan membuat gw harus memakai topeng lagi.
Kalo baca kata friends, apa siyh yang ada di pikiran gw?
Yang jelas, yang
pertama kali gw pikirin pastinya adalah arti bahasa indonesia dari kata itu,
dimana friends itu artinya teman-teman.
Hal kedua yang ada di pikiran gw
adalah arti teman itu menurut gw. Dimana menurut gw arti teman adalah orang yang
bakalan selalu ada di saat gw sedih, di saat gw bahagia, di saat gw butuh orang
buat menenangkan gw, di saat gw ingin berbagi, di saat gw butuh orang yang bisa
menghentikan tangisan gw, di saat gw butuh pelukan untuk menandakan bahwa ada
orang yang peduli sama gw, dan sebagainya. Arti teman buat gw nggak mungkin gw
jabarin di sini semuanya. Soalnya panjang banget. Yang jelas arti singkat
tentang teman adalah salah satu orang yang paling gw butuhin dalam hidup
gw.
Hal ketiga yang ada di pikiran gw adalah pertanyaan-pertanyaan
berikut:
“Apakah gw udah ngedapetin teman?
Kalau emang gw udah ngedapetin
teman, kenapa gw belum bisa ngerasain kehadiran mereka di hidup gw?
Atau
mungkin pengertian teman menurut versi gw itu salah?
Jadi apa pengertian
teman yang sebenarnya?
Apa ada orang yang bisa ngasih tau gw, apa arti teman
yang sesungguhnya?
Jadi, siapa selama ini teman gw?
Mereka ada
dimana?
Apa mereka tau bahwa teman itu adalah suatu hal yang berharga banget
buat gw?
Kalau mereka nggak tau, apa yang harus gw lakuin biar mereka
tau?
Kenapa sampai sekarang gw masih takut untuk mengakui seseorang sebagai
teman gw?”
Sebenarnya, masih banyak banget pertanyaan-pertanyaan yang
berseliweran di kepala gw. (Tapi, nggak mungkin semuanya gw diktein di sini. Gw
capek kali ngetiknya!!)
Hal keempat yang ada di pikiran gw adalah, suatu
pernyataan pendek yang cuma terdiri dari empat kata. “Gw pengen punya temen”.
That’s all. So short, isn’t it? Tapi, apa gw sanggup
merealisasikannya?
Segala hal yang berhubungan dengan teman, sahabat,
persahabatan dan hal semacamnya selalu saja membuat gw seperti mengoleksi
segudang pertanyaan yang selalu bermunculan di kepala gw. Pertanyaan yang
diawali dari kata apa, kenapa, dimana, kapan, siapa, dan bagaimana, juga
pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan kata “ya” dan “tidak”, bahkan
pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban selalu saja bertebaran tiapa kali gw
mendengar, menulis, memikirkan tentang hal yang berhubungan dengan satu kata
itu. Teman.
Hal terakhir yang ada di pikiran gw adalah, kapan Tuhan akan
benar-benar memberitahu gw segala kebenaran dan jawaban dari semua yang sudah gw
tanyain tentang teman.